Powered By Blogger

Kamis, 19 April 2012

Sebuah Kisah dari Kerajaan Mimpi

Percayakah anda jika sebuah mimpi adalah sebuah penyusun kisah?
Aku melihat diriku dengan mecocokkan betapa aku ini dibesarkan oleh mimpi dan khayalan.  Aku memujai mimpiku, aku ingin setiap yang aku lihat, aku sentuh dan bahkan hal yang tidak aku sentuh dan aku lihat bisa sesuai dengan semua yang kuimpikan. Betapa aku ingin semesta melimpahkan semua rencannya dan menyususnnya atas mimpiku. Kujalankan mimpiku dan kujadikan obsesi yang mensugesti intuisiku dalam menakar rangkaian hidupku. Segala yang kuinginkan seakan egois dan berjalan megikuti alur emosiku. Aku marah ketika apa yang impianku tak tercapai sepenuhnya, aku seolah menjauhkan potensi negatif semesta yang harusnya selalu siap menerkam impianku. Aku ingin segala kebaikan aku dapatkan, aku ingin segala keegoisan atas aku kumiliki. Semuanya harus kubangun sempurna dalam kerajaan mimpiku.
Sampai akhirnya aku sadar, ini adalah kehidupa nyata, dan saya tidak bisa menciptakan kerajaan mimpiku sendiri sesuai dengan apa yang aku kehendaki. Aku berusaha membuka mata dan mencium kening kesyukuran yang selalu melindungiku.
Wahai penguasa semesta hadirkan aku pada segala kesabaran itu, dan tikamlah batin yang membujuk keegoisan dan kedengkian itu lahir. Aku menitihkan air mata pada gelak tawa iblis yang menertawai keegoisanku. Sampai akhirnya, keegoisanku pulalah yang mengusirnya untuk pergi, karna aku tak butuh dia lagi. Seperti terlalu nekat mempunyai pengawal seperti dia.
Wahai segala yang putih, bersih jauhkan aku dari hal keabu-abuan dan kehitaman dalam segala tirai yang akan kubuka. Perhatikan aku, bisikkan, atau tariklah aku atas segala apa yang menyalahi keputihan dan kebersihanmu. Aku hanya tak ingin merenggut keindahanmu, walau satu coretan abu yang tak senada denganmu. Setitik pun.
Ah, masih terlalu egois aku ini mengatur si putih untuk tetap putih. Bukankah dia juga berhak untuk mewanai dirinya? Tapi tak ada hal lain yang bisa memutihkan si putih selain dia. Aku ingin dia menjagaku terus sebagai putihku, mengingatkan aku betapa aku harus menjalani keajaiban ini dengan segala kejutannya setiap aku membuka mata walau iblis dengan segala warna gelapnya kadang masih menghampiriku dan menggodaku dengan sanjungan.
Aku tetap mempedulikan kerajaan mimpiku meski tinggal puningnya saja, sekali-kali aku menengoknya sekadar pembangun intuisiku agar aku mendapatkan sebuah sugesti positif. Semesta telah mengahdiahi aku dengan sebuah bisikan rahasia dan kurasa itu benar. Aku dibebaskannya untuk bermimpi, aku dibebaskannya untuk berdoa, aku pun dibebaskan untuk terus berharap selama aku memuja kesyukuran di atas segala impian, doa dan harapanku. Menurutnya segala yang baik akan menghampirku bergantung situasi pemikiran dan pandanganku, dan kurasa itu benar. Saat aku memandangi sesuatu sebagai hal positif maka akan berbalik semesta menjanjiku dengan hal positif. Segalanya akan baik jika aku menutupi diri dengan kain kesyukuran. Semesta juga mengajariku untuk tetap bermimpi selama aku sadar bahwa ada usaha untuk mengkongkretkan mimpi itu. Sebab mimpi adalah pemberi semangat  untuk menghadapi keajaiban meskipun aku tak harus membangun kerajaan mimpiku yang kuanggap terlalu egois. Mimpi membesarkan aku, mimpi yang menghidupkan aku dan mimpi yang membuat aku berani. Aku tanpa mimpi hanyalah roh tanpa raga. Mimpi bagian dari pembangun kisahku, bagian dari titik nafasku, bagian dari sudut pikiranku.

2 komentar:

  1. bermimpilah, mimpi itu akan menggerakkan kita untuk menggapainya ... ...

    BalasHapus
  2. iya, karena hanya dalam mimpi kita menemukan makna bebas yang sesungguhnya :)

    BalasHapus