Powered By Blogger

Jumat, 25 November 2011

Mengenal Bahasa Prokem

   Masa remaja, ditinjau dari segi perkembangan, merupakan masa kehidupoan manusia yang paling menarik dan mengesankan. Masa remaja mempunyai ciri antara lain, petualangan, pengelompokan, kenakalan. Ciri ini tercermin pula dalam bahasa mereka. Keinginan untuk membuatkelompok ekslusif menyebabkan menciptakan bahasa rahasia yang hanya berlaku bagi kelompok mereka, atau kalau semua pemuda sudah tau, bahasa ini ttap rahasia bagi kelompok anak-anak dan orang tua. Berikut ini akan dibicarakan beberapa bentukbahasa semacam itu yang pernah ada di Indonesia.
(1)   Penyisispan konsonan V + vokal
Sebelum tahun lima puluhan di kalangan remaja muncul kreasi menyisipkan konsonan v + vokal pada setiap kata yang diapakai. Vokal dibelakang v itu sesuai dengan vokal suku kata yang disisipi. Konsonan v + vokal itu ditempatkan di belakang setiap suku kata, baik dalam bahasa daerah maupun BI.
Contoh :
Mata = ma + ta -> (ma+va)+(ta+va)-> mavatava
(2)   Penggantian suku akhir dengan –sye
Menjelang tahun enam puluhan muncul bentuk lain. Setiap kata diambil hanya suku pertamanyasaja, suku yang lain dihilangkan, diganti dengan –sye.
Contoh :
Kunci -> kunsye
Tambah->tamsye
(3)   Membalik fonem-fonem dalam kata (ragam walikan) bahasa rahasia yang unik dikalangan remaja, disekitar tahun 1960 muncul di Malang, tetapi akhirnya juga meluas. Kata-kata dibaca menurut urutan fonem dari belakang, dibaca terbalik (jawa=walikan).
Contoh :
Mata -> atam
(4)   Variasi dari model (3)
      Setelah model ketiga  di atas meluas pada orang-orang yang bukan pemuda lagi (telah menjadi dewasa), model pembalikan divariasikan.caranya:  kata yang sudah dibalik itu disisipi bunyi-bunyi tertentu, atau bunyi-bunyi tertentu dalam kata itu diubah. Misalnya ;
Tidak -> kadit -> kadodit
Sehat -> tahes -> tahohes

   Salah satu tutur remaja yang juga khas, dan muncul di Jakarta yang disebut bahasa prokem. Kalau tutur remaja di Malang pernah dimunculkan oleh Subandi Djajaengawasito dalam Kongres MLI ( Masyarakat Linguistik Indonesia ) di Denpasar 1983, bahasa prokem pernah diangkat oleh Lita Pamela Kawira pada Seminar Sosiolkinguistik II di Jakarta, Desember 1988. Bahkan sebelumnya sudah terbit Kamus Bahasa Prokem oleh Prathama Rahardja dan Henri Chambert Loir (1988). Meskipun bahasa prokem itu sekarang dikatakan menjadi milik remaja di Jakarta, pencipta aslinya sebenarnya adalah kaum pencoleng, pencopet, bandit dan sebangsanya. Di Jakarta mereka ini disebut kaum preman. Rumus pembentukan bahasa prokem itu “sebagian” memakai penyisipan –ok- ditengah kata yang sudah disusutkan, dan mirip dengan apa yang sudah kita kenal pada bahasa rahasianya kaum waria dan gay di Surabaya dan tutur remaja di Malang. Pada bahasa waria dan gay ada rumus pembentuk seperti :
(1)   Setiap kata diambil 3 fonem, misalnya “banci” diambil ban-
(2)   Vokal di tengah diubah menjadi /e/, menjadi ben­-;
(3)   Bentuk terakhir itu lalu ditambah dengan –ong, menjadi bencong.
Kata prokem itu sendiri berasal dari preman dengan rumus berikut :
(1)   Setiap kata diambil 3 fonem (gugus konsonan dianggap satu) pertama : preman menjadi prem-;
(2)   Bentuk itu disisipi –ok-, di belakang fonem (atau gugus fonem) yang pertama, menjadi : pr-ok-em atau prokem.
Contoh lain :
Bapak ->bap->b-ok-ap­­->bokap
Variasi lain dengan menghilangkan vokal terakhir saja, kemudian disisipi –ok- dibelakang 3 fonem pertama. Misalnya:
Begitu-> begit->beg-ok-it->begokit
Penghilangan satu bunyi ini dalam pelajaran bahasa Indonesia disebut apokop. Model lain adalah metatesis pada tingkat suku kata. Contoh :
Besok -> sobek
Piring-> riping
Variasi lain dari yang terakhir ini sebagai berikut :
Habis -> ba’is
Ambil -> ba’il
Terdapat juga singkatan-singkatan yang “dimunculkan” dari kata-kata umum, singkatan atau akronim. Misalnya :
Tapol ‘tahu polos’ (bukan tahanan politik)
AC ‘adegan cinta’
BP7 ‘bapak pergi pagi pulang petang pengahsilan pas-pasan
PKI ‘Perawan ketek item’
Botol ‘bodoh dan tolol’
Fanta ‘fanatik tapi agresif’
Kemunculan kata-kata “baru” itu, dilihat dari segi kebahasaan, menambah kekayaan perbendaharaan kata, setidaknya untuk kalangan remaja. Tidak bisa dipungkiri, akronim itu menggambarkan “keuntungan ekonomi” dalam bahasa Indonesia, tetapi dilain pihak juga menambah beban bangsa Indonesia untuk belajar lebih banyak kosa kata “asing”.
Orang membuat akronim, khususnya kalangan remaja, dengan tidak menciptakan kata baru, melainkan menggunakan kata-kata lama yang sudah ada dan dikenal dalam bahasa Indonesia, dengan agak “menggelitik”, “nakal”, atau porno. Misalnya kondisi dan domisili disingkat kondom.
Akronim berikut ditemukan dalam majalah remaja :
Semampai : semester tidak sampai
Kalap     :  nakal pada waktu gelap
Pendekar : pendek tapi kekar
Tante : tanpa tekanan
Rindu : mikirin duit
Remaja memang suka “memberontak” dan hal ini tergambar dalam ekspresi tuturnya. Pemberontakan itu tercermin pada penggunaan tutur nonbaku, bahkan mungkin pada penciptaan bentuk-bentuk nonbaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar