Powered By Blogger

Selasa, 18 September 2012

Tentang Sebuah Cita


Tentang sebuah mimpi, impian, cita-cita yang sebagian orang mengatakannya hanya omong kosong. Merekalah orang-orang beromong besar. Anda mungkin akan bertepuk tangan bila mereka mampu menunjukkan hal yang lebih baik yang membuat mereka pantas mengolo-olok sebuah mimpi. Haruskah uang yang menjadi patokan agar anda menghambat olok-olokan itu? Kasihan lah kepada mereka yang melihat betapa kualitas kreativitas adalah hal yang mereka anggap nol dibanding dengan kuantitas kehidupan seseorang. Sungguh sempit. Betapa mereka seperti tidak bisa memercayai bahwa orang lain mampu berusaha untuk mewujudkan impiannya. Mereka mungkin akan tertawa pada keheningan pilu diri mereka sendiri yang seakan mencabik hati mereka sendiri karena dipusingkan dengan impian orang lain. Kasihan.
Ada sebuah lubang keberhasilan yang akan ditemui justru bukan dari orang-orang yang anda kagumi, melainkan yang anda benci. Anda akan menjadikan orang-orang yang anda benci untuk menjadikan barometer kesuksesan anda yang justru membuat anda ingin menjadi sesuatu yang “lebih” dibandingkan mereka. Sayangnya, hal yang dimulai dengan emosi dan dendam dengan niat ingin mengalahkan hanya akan menjauhkan anda pada kebaikan semesta.Sedikit yang berhasil.
Dunia luas. Ada banyak orang yang akan anda pandangi. Ada banyak tempat yang memudahkan anda berkreasi, melihat sebuah “lahan impian” yang akan anda taruh di dalamnya segala macam yang dapat membuat anda bahagia dan tersenyum. Bukan hanya sekadar kebahagiaan yang bersifat kekayaan. Meski tak dapat termunafikkan, bahwa kekayaan mampu mebuat hidup anda lebih tenang. Tentu dengan tidak mengandalkan nafsu serakah dan dendam.
Tuhan akan sangat berterima kepada setiap doa yang dijunjungkan hamba-Nya kepada-Nya. Tentu kepada hamba yang tidak egois, yang tidak mau menerima jalan lain selain jalan yang telah dibuatnya, yang tidak menerima jalan yang direstui oleh-Nya, yang mungkin justru lebih baik. Mereka yang percaya kepada Tuhannya akan lebih dewasa dalam menyikapi kehidupan, percaya akan ada jalan terbaik, dan percaya kepada diri untuk tetap berusaha.
Tersenyumlah kepada kegerahan mahkluk yang menertawai anda, jika perlu tertawalah dengan tenang jika mahkluk itu tertawa tanpa apa-apa. Anda punya impian yang kelak menjadi apa-apa. Jangan jadikan sebagai dendam. Tunjukkan saja bahwa anda bisa bermimpi dan meraih mimpimu. Lihat impian orang lain sebagai motivasi anda untuk memompa semangat kreativitas anda, bukan untuk menyepelekan mimpi mreka. Lihatlah anda, apa impian anda atau bahkan apa yang anda miliki yang membuat anda pantas menganggap impiannya pantas untuk anda tertawakan? Bijaklah, hidup ini luas. Patoklah lahan impian anda seluas mungkin. Jangan ragu. Itu hak dalam hidup anda.
Tidak semua jalan hidup untuk mewujudkan impian itu lurus dan tanpa hambatan. Ada beberapa orang yang jalan hidupnya bertahap yang membuatnya lebih nyaman, tetapi orang ini mungkin agak susah untuk melihat pelajaran hidupnya. Ada beberapa orang yang jalan hidupnya sangat berkelok tetapi ia akan selalu melihat pelajaran hidupnya, lebih terlatih. Setiap orang mungkin menginginkan jalan yang  aman-aman saja untuk hidupnya. Saya pun.
Memang lidah rasanya mudah untuk menyemangati orang lain, meberikan mereka motivasi. Tetapi bagaimana dengan mereka yang menjalani? Hanya sekadar ingin memberi tahu, jika dunia ini luas. Luas untuk membuat lahan impian. Jangan terpatok pada satu impian. Buat cadangan sebanyak-banyaknya. Jangan memenjarai diri dengan pikiran kegagalan. Berpikir positif, hidup itu ada untuk dinikmati, santai saja jangan sampai serius dan sampai lupa untuk bahagia. Jangan membuat diri  tidak percaya pada Tuhan. Tuhan punya banyak cara untuk lahan impian yang telah dibuat.
Perhatikan tentang orang-orang yang bisa meraih impiannya, tidak semua dari mereka adalah orang yang sangat terpaku pada jalan impiannya, yang seakan melototi impiannya, dengan ambisius. Justru banyak dari mereka yang santai dalam menjalani hidup, tidak banyak perhitungan, tidak banyak memikirkan kehidupan orang lain. Tapi jangan sampai lupa pada lahan impian, buatkan target. Buatkan siteplan isi lahan impian dan buatkan jalan untuk meraihnya, targetkan, dan jalani dengan santai dan tetap melihat pada target. Jika meleset dari target, mungkin ada ‘buk’ yang dirasakan tapi percayalah akhirnya pasti ada jalan keluar.
Santai saja, tak perlu menggaruk kepala yang tak gatal. Tangisi saja usaha yang telah dikeluarkan, jika tangis akan mengurangi beban pikiran. Satu, dua, tiga kali mungkin akan berbelok, tapi ada banyak pelajaran hidup di dalamnya, membuat hidup lebih banyak pengalaman. Kelak akan ada jalan mulus. Jika percaya pada Tuhan jika percaya pada diri. Lihatlah lahan impian, lihat dari banyak angle bukan hanya satu garis lurus, tapi perbanyaklah. Ada banyak cara. Tidak akan ada hidup yang sia-sia kan?

Kamis, 19 April 2012

Sebuah Kisah dari Kerajaan Mimpi

Percayakah anda jika sebuah mimpi adalah sebuah penyusun kisah?
Aku melihat diriku dengan mecocokkan betapa aku ini dibesarkan oleh mimpi dan khayalan.  Aku memujai mimpiku, aku ingin setiap yang aku lihat, aku sentuh dan bahkan hal yang tidak aku sentuh dan aku lihat bisa sesuai dengan semua yang kuimpikan. Betapa aku ingin semesta melimpahkan semua rencannya dan menyususnnya atas mimpiku. Kujalankan mimpiku dan kujadikan obsesi yang mensugesti intuisiku dalam menakar rangkaian hidupku. Segala yang kuinginkan seakan egois dan berjalan megikuti alur emosiku. Aku marah ketika apa yang impianku tak tercapai sepenuhnya, aku seolah menjauhkan potensi negatif semesta yang harusnya selalu siap menerkam impianku. Aku ingin segala kebaikan aku dapatkan, aku ingin segala keegoisan atas aku kumiliki. Semuanya harus kubangun sempurna dalam kerajaan mimpiku.
Sampai akhirnya aku sadar, ini adalah kehidupa nyata, dan saya tidak bisa menciptakan kerajaan mimpiku sendiri sesuai dengan apa yang aku kehendaki. Aku berusaha membuka mata dan mencium kening kesyukuran yang selalu melindungiku.
Wahai penguasa semesta hadirkan aku pada segala kesabaran itu, dan tikamlah batin yang membujuk keegoisan dan kedengkian itu lahir. Aku menitihkan air mata pada gelak tawa iblis yang menertawai keegoisanku. Sampai akhirnya, keegoisanku pulalah yang mengusirnya untuk pergi, karna aku tak butuh dia lagi. Seperti terlalu nekat mempunyai pengawal seperti dia.
Wahai segala yang putih, bersih jauhkan aku dari hal keabu-abuan dan kehitaman dalam segala tirai yang akan kubuka. Perhatikan aku, bisikkan, atau tariklah aku atas segala apa yang menyalahi keputihan dan kebersihanmu. Aku hanya tak ingin merenggut keindahanmu, walau satu coretan abu yang tak senada denganmu. Setitik pun.
Ah, masih terlalu egois aku ini mengatur si putih untuk tetap putih. Bukankah dia juga berhak untuk mewanai dirinya? Tapi tak ada hal lain yang bisa memutihkan si putih selain dia. Aku ingin dia menjagaku terus sebagai putihku, mengingatkan aku betapa aku harus menjalani keajaiban ini dengan segala kejutannya setiap aku membuka mata walau iblis dengan segala warna gelapnya kadang masih menghampiriku dan menggodaku dengan sanjungan.
Aku tetap mempedulikan kerajaan mimpiku meski tinggal puningnya saja, sekali-kali aku menengoknya sekadar pembangun intuisiku agar aku mendapatkan sebuah sugesti positif. Semesta telah mengahdiahi aku dengan sebuah bisikan rahasia dan kurasa itu benar. Aku dibebaskannya untuk bermimpi, aku dibebaskannya untuk berdoa, aku pun dibebaskan untuk terus berharap selama aku memuja kesyukuran di atas segala impian, doa dan harapanku. Menurutnya segala yang baik akan menghampirku bergantung situasi pemikiran dan pandanganku, dan kurasa itu benar. Saat aku memandangi sesuatu sebagai hal positif maka akan berbalik semesta menjanjiku dengan hal positif. Segalanya akan baik jika aku menutupi diri dengan kain kesyukuran. Semesta juga mengajariku untuk tetap bermimpi selama aku sadar bahwa ada usaha untuk mengkongkretkan mimpi itu. Sebab mimpi adalah pemberi semangat  untuk menghadapi keajaiban meskipun aku tak harus membangun kerajaan mimpiku yang kuanggap terlalu egois. Mimpi membesarkan aku, mimpi yang menghidupkan aku dan mimpi yang membuat aku berani. Aku tanpa mimpi hanyalah roh tanpa raga. Mimpi bagian dari pembangun kisahku, bagian dari titik nafasku, bagian dari sudut pikiranku.

Rabu, 18 April 2012

Kepo Menurut Pandangan Saya (Bukan Ahli Apa-apa)


Well, tulisan ini saya persembahkan pada teman-teman kepo-ing saya si Unik, Ayu, Antik, Tutik dan zisa. Hahhaha..
Sebenarnya KEPO itu apa? Pada beberapa kondisi yang pernah saya alami, bertanya ini-itu sekarang bakal dikatain, ”Ah, KEPO lo!” Ahahaha.. Oke, kita turun ke lapangan untuk mengobservasi KEPO ini, dan tindakan KEPO ini terjadi di berbagai tempat, situasi dan dunia, termasuk dunia maya maksudnya, hehe. Contohnya :
W : Itu di samping Tuti, siapa sih?
U : Pacarnya kalii!
W : Baru? Namanya?
U : Along
W : Anak mana ?
U : Seni
W : Kapan jadiannya?
U : KEPO  YAH, KAMU!
Itu contoh dialog Kepo, dan dianalisis dari beberapa sumber yang tertangkap di om google, Kepo didefinisikan  :
1.       Berasal dari bahasa hokkian.Ke = Bertanya, Po (Apo) = Nenek2. Jadi artinya nenek-nenek yg suka tanya-tanya.Kasarannya, pengen tau banget. (http://kitabgaul.com)
2.       KEPO adalah singkatan dari, KE=KElakuan en PO=POlisi. Seperti tugas-tugas polisi pada umunya yang suka nanya-nanya si korban/tersangka (dari sumber anonim)
3.       KEPO merupakan singkatan dari Bahasa Inggris yaitu Knowing Every Particular Object artinya 'mengetahui setiap objek secara khusus’(pengertian secara umum)
Pada beberapa definisi yang terjabarkan di atas, disimpulkan kalau kepo itu, adalah seseorang yang pengen tau banget tentang sesuatu. Hmm.. Jadi, sekarang mesti nyadar diri kalau banyak bertanya, alih-alih dikatain cerdas, anda justru dikatain “AH KEPO BANGET SIH LO”. Hahahaha.. berdasarkan analisis saya, kepo ini seolah mengandung makna konotasi yang sangat negative. Saya tidak membayangkan kalau anak didik usia sekolah dasar tauk tentang istilah KEPO ini. Bayangkan mereka tauk, dan si anak akan bertanya pada orang tuanya, “Pa, Kepo itu apa?” trus si bapak ngejawab “ Kepo itu berarti mengetahui setiap objek secara khusus” nah si anak, pasti belum mengerti dan akan balik bertanya, “ Maksudnya?” si Bapak mungkin akan menjawab dengan jawaban yang singkat agar anaknya memahami,”Nak, Kepo itu terlalu mau tau tentang suatu hal”anak mungkin akan memahami dan menyimpan kata kepo dan definisi kepo (versi bapaknya) di kepalanya. Setibanya di sekolah, si anak akan memerhatikan teman-temannya yang bertanya dan akan siap mengatai temannya kepo kalau terlalu banyak bertanya pada guru.  Iya, ini yang sebenarnya saya khawatirkan. Ckck..
Tapi secara mengkhusus untuk menghilangkan keambiguan makna pada kata ‘KEPO’ ini, menurut sumber http://malesbanget.com kepo diartikan sebagai sok mau tau urusan orang. Jadi ada pengerucutan kepo hanya untuk urusan yang menyangkut seseorang, bukan hal lain seperti benda atau apalah, jadi hanya untuk seseorang terlebih khusus untuk kehidupan pribadinya. Kepo-ing sendiri paling pas pada saat kita kurang bahan untuk gosipan, maka kita akan mencari objek dengan memerhatikan orang disekitar lalu akan mmenggali tentang kehidupannya sedalam jurang.
Oke. Just it, see yaw!

Minggu, 18 Maret 2012

Keterkaitan Bahasa dan Pikiran (Tinjauan Psikolinguistik)

A. Pengertian
1.      Bahasa
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( Boediono,2005), bahasa artinya system lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.
 Bahasa juga diartikan sebagai rangkain bunyi yang mempunyai makna terrtentu. Rangkain bunyi yang kita kenal sebagai kata, melambangkan suatu konsep. Kumpulan lambang bunyi, dalam pemikirannya, tidak terlepas dari yang satu dengan yang lainnya. Kata-kata itu dipergunakan dalam suatu sistem yang terpola. Walaupun bunyi-bunyi bahasa itu di gunakan sudah benar dan sesuai dengan konvensi (kesepakatan pengguna bahasa), tetapi bila hubungan antar kata-katanya itu tidak berpola, maka proses komunikasi tidak akan berjalan dengan baik (Kosasih,E ,2003 : 2).
Bahasa adalah media manusia berpikir secara abstrak yang memungkinkan objek-objek faktual ditransformasikan ke dalam simbol-simbol abstrak. Dengan adanya bahasa kita dapat memikirkan sesuatu meskipun objek yang kita pikirkan itu tidak berada di dekat kita . Dengan simbol-simbol bahasa yang abstrak, kita dapat memikirkan sesuatu secara terus-menerus dan kemudian mewariskan pengalamannya itu kepada generasi-generasi berikutnya. Kita dapat pula mengkomunikasikan sesuatu yang kita pikirkan dan dapat pula belajar sesuatu dari orang lain.
Bahasa adalah medium tanpa batas yang membawa segala sesuatu mampu termuat dalam lapangan pemahaman manusia. Oleh karena itu, memahami bahasa akan memungkinkan kita memahami bentuk-bentuk pemahaman manusia.
2.      Pikiran
Pikiran berasal dari kata dasar pikir. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Boediono, 2005), Pikir  artinya akal budi ; ingatan; angan-angan; kata dalam hati; kira, kemudian mendapat sufiks –an menjadi kata pikiran. Pengertian pikiran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 3,2007 bahwa pikiran adalah akal budi atau ingatan. Sedangkan menurut Sri Utami (1992 :30), menyatakan bahwa berpikir adalah aktivitas mental manusia. Dalam proses berpikir kita merangkai-rangkaikan sebab akibat, menganalisinya dari hal-hal yang khusus atau atau kita menganalisisnya dari hal-hal yang khusus ke yang umum. Berpikir berarti merangkai konsep-konsep. Pikiran adalah proses pengolahan stimulus yang berlangsung dalam domain representasi utama. Proses tersebut dapat dikategorikan sebagai proses perhitungan (computational process).
Proses berpikir dilalui dengan tiga langkah yaitu: pembentukan pikiran, pembentukan pendapat,  penarikan kesimpulan dan pembentukan keputusan. Pertama, yaitu pada pembentukan pikiran. Pada pembentukan pikiran inilah manusia menganalisis ciri-ciri dari sejumlah objek. Objek tersebut kita perhatikan unsur-unsurnya satu demi satu. Misalnya mau membentuk pengertian manusia. Kita akan menganalisis ciri-ciri manusia.
Kedua, yakni pada pembentukan pendapat. Pada pembentukan pendapat ini seseorang meletakkan hubungan antara dua buah pengertin atau lebih yang dinyatakan dalam bentuk bahasa yang disebut kalimat. Pembentukan pendapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu pendapat afirmatif atau pendapat positif yaitu pendapat yang mengiakan sesuatu hal, pendapat negatif yaitu pendapat yang tidak menyetujui, dan pendapat modalitas yaitu pendapat yang memungkinkan sesuatu.
Ketiga, pada penarikan kesimpulan. Pada penarikan kesimpulan ini melahirkan tiga macam kesimpulan, yaitu keputusan induktif, deduktif, dan analogis ( perbandingan).
B.      Keterkaitan Bahasa dan Pikiran
Pikiran manusia pada hakikatnya selalu mencari dan berusaha untuk memperoleh kebenaran. Karena itu pikiran merupakan suatu proses. Dalam proses tersebut haruslah diperhatikan kebenaran bentuk dapat berpikir logis. Kebenaran ini hanya menyatakan serta mengandaikan adanya jalan, cara, teknik, serta hukum-hukum yang perlu diikuti. Semua hal ini diselidiki serta dirumuskan dalam logika.
Selanjutnya terdapat beberapa pengelompokan keterkaitan bahasa berdasarkan uraian para ahli yaitu:
1.       Bahasa Memengaruhi Pikiran
Pemahaman terhadap kata mempengaruhi pikirannya terhadap realitas. Pikiran dapat manusia terkondinidikan oleh kata yang manusia gunakan. Tokoh yang mendukung hubungan ini adalah Benjamin Wrof dan gurunya, Edward Sapir. Wrof mengambil contoh Bangsa Jepang. Orang Jepang mempunyai pikiran yang sangat tinggi karena orang Jepang mempunyai banyak kosa kata dalam menjelaskan realitas. Hal ini membuktikan bahwa mereka mempunyai pemahaman yang mendetail tentang realitas.
2.      Pikiran Memengaruhi Bahasa
Ada kemungkinan struktur bahasa dipengaruhi oleh pikiran. Sekitar 2.500 tahun yang lalu Aristoteles berargumen bahwa kategori pikiran menentukan kategori bahasa. Banyak alas an yang memperkuat argument tersebut, walaupun Aristoteles sendiri tidak bisa memperlihatkan alas an-alasan tersebut. Adapun alasan yang dapat dikemukakan antara lain, kemampuan manusia berpikir muncul lebih awal ditinjau dari aspek evolusi dan berlangsung belakangan dari aspek perkembangannya dibandingkan kemampuan menggunakan bahasa.
Tokoh psikologi kognitif yang tak asing bagi manusia, yaitu Jean Piaget menyatakan bahwa ada keterkaitan antara pikiran dan bahasa. Bahasa adalah representasi dari pikiran. Melalui observasi yang dilakukan oleh Piaget terhadap perkembangan aspek kognitif anak. Ia melihat bahwa perkembangan aspek kognitif anak akan memengaruhi bahasa yang digunakannya. Semakin tinggi aspek tersebut semakin tinggi bahasa yang digunakannya. Sebelum anak-anak menggunakan bahasanya secara efektif, anak-anak memperlihatkan kemampuan kognitif yang cukup bearti dan beragam.
Menurut Pieget, ada dua pikiran, yaitu pikiran terarah (directed) atau intelligent dan pikiran tidak terarah atau autistik (autictic). Pikiran yang terarah adalah pikiran yang menghasilkan tindakan atau ujaran yang dapat dipertanggungjawabkan dan memiliki landasan kuat, sedangkan pikiran tidak terarah umumnya pikiran yang sering menimbulkan kekeliruan atau dampak yang tidak terduga. Mungkin itu sebabnya terjadi tergelincir lidah.
3.       Bahasa dan Pikiran Saling Memengaruhi
Hubungan timabal balik antara kata-kata dan pikiran dikemukakan oleh Benyamin Vigotsky, seorang ahli semantic kebangsaan Rusia yang teorinya dikenal sebagai pembaharu teori. Piaget mengatakan bahwa bahasa dan pikiran pada tahap permulaan berkembang secvara terpisah, dan tidak saling mempengaruhi. Jadi, mula-mula pikiran berkembang tanpa bahasa, dan bahasa mula-mula berkembang tanpa pikiran. Lalu pada tahap berikutnya, keduanya bertemu dan saling bekerja sama, serta saling mempengaruhi. Penggabungan Vigotsky terhadap kedua pendapat di atas banyak diterima oleh kalangan ahli psikologi kognitif.

Rujukan
Arifuddin. 2010. NEUROPSIKOLINGUISTIK. Jakarta: Rajawali Pers
Mahmudah, DR. 2012. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Makassar: Universitas Negeri Makassar 
http://susilo.adi.setyawan.student.fkip.uns.ac.id/2010/01/26/hubungan-antara-bahasa-dan-otak-logika-dan-pikiran-dalam-kajian-psikolinguistik/

Bahasa, Realita, dan Pikiran

Mungkin pada beberapa kasus yang kita lalui tanpa kita sadari, pada akhirnya jika ada kesempatan kita akan berpikir :
1. Apakah bahasa memengaruhi perilaku ?
2. Berikan contoh dalam kehidupan sehari-hari mengenai :
a.       bahasa dan realita
b.      bahasa dan perilaku
Jawabannya :
1.      Iya. Karena bahasa pada dasarnya memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang,yakni sebagai alat mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf,1997 : 3). Sedangkan perilaku manusia adalah sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi  oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan/atau genetika (Wikipedia). Maka melihat dari keseluruhan pandangan tersebut, dapat disimpulkan jika perilaku manusia dapat tercermin dari penggunaan bahasa yang digunakannya sebagai alat untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan melihat diksi dan intonasinya.
2.      Contoh :
a.       bahasa dan realita
Ketika saya menyuruh adik saya mengambil guling maka yang akan dibawakan oleh adik saya adalah sebuah benda yang empuk dan berbentuk silinder yang panjang.
b.      bahasa dan perilaku
                  Ketika salah satu mahasiswa di kampus saya sedang melintas di hadapan teman saya kemudian    berkata ‘tabe’ maka tanpa mengenal lebih dalam pribadi orang tersebut saya bisa berargumen jika orang tersebut  adalah orang yang sopan dan berperilaku halus.

Selasa, 06 Maret 2012

Semantik Bahasa Indonesia

I. PENDAHULUAN

Sebagai salah satu komponen bahasa, semantik pernah kurang diperhatikan orang karena objek studinya, yaitu makna, dianggap sangat sukar ditelusuri dan dianalisis strukturnya. Makna sangat bersifat arbitrer, berbeda dengan morfem atau kata, sebagai sasaran dalam studi morfologi yang strukturnya tampak jelas dan dapat di sekmen-sekmenkan.
Namun dewasa ini, keadaan itu sudah berbalik. Kini semantik dianggap sebagai komponen bahasa yang tidak dapat dilepaskan dalam pembicaraan linguistik. Tanpa membicarakan makna pembahasan linguistik belum dianggap lengkap karena sesungguhnya tindakan berbahasa itu tidak lain dari pada upaya untuk menyampaikan makna-makna itu. Ujaran-ujaran yang tidak bermakna tidak ada artinya sama sekali.
Makna sebagai objek dalam studi semantik ini memang sangat rumit persoalannya, karena bukan hanya menyangkut persoalan dalam bahasa saja tetapi juga menyangkut persoalan luar-bahasa. Faktor-faktor luar bahasa seperti masalah agama, pandangan hidup, budaya, norma dan tata nilai yang berlaku dalam masyarakat turut meruwetkan persoalan semantik.       

II. PEMBAHASAN

A.  Pengertian Semantik
Kata semantik dalam bahasa Indonesia (Inggris: semantiks) berasal dari bahasa Yunani sema ( kata benda yang berarti “tanda” atau “lambang”. Kata kerjanya adalah semaino yang berarti “menandai” atau “melambangkan”. Yang dimaksud dengan tanda atau lambang disini sebagai padanan kata sema itu adalah tanda linguistik seperti yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure (1966), yaitu yang terdiri dari (1) komponen yang mengartikan, yang berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa dan (2) komponen yang diartikan atau makna dari komponen yang pertama itu. Kedua komponen ini adalah merupakan tanda atau lambang; sedangkan yang ditandai atau dilambanginya adalah sesuatu yang berada di luar bahasa yang lazim disebut referen atau hal yang ditunjuk.
 Kata semantik ini kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Atau dengan kata lain, bidang studi dalam linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa. Oleh karena itu, kata semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga tataran analisis bahasa: fonologi, gramatika, dan semantik.
Selain  istilah semantik dalam sejarah linguistik ada pula digunakan istilah lain seperti semiotika, semiologi, semasiologi, sememik, dan semik untuk merujuk pada bidang studi yang mempelajari makna atau arti dari suatu tanda atau lambang. Namun, istilah semantik lebih umum digunakan dalam studi linguistik karena istilah-istilah yang lainnya itu mempunyai cakupan objek yang lebih luas, yakni mencakup makna tanda atau lambang pada umumnya. Termasuk tanda-tanda lalu lintas, kode morse, tanda-tanda dalam ilmu matematika. Sedangkan cakupan semantik hanyalah makna atau arti yang berkenan dalam bahasa sebagai alat komunikasi verbal.
Semantik merupakan cabang linguistik yang mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu sosial lain seperti sosiologi dan antropologi; bahkan juga dengan filsafat dan psikologi. Sosiologi mempunyai kepentingan dengan semantik karena sering dijumpai kenyataan bahwa penggunaan kata-kata tertentu untuk mengatakan sesuatu makna dapat menandai identitas kelompok dalam masyarakat. Kata uang dan duit memiliki makna yang sama, tetapi penggunaannya dapat menunjukkan identitas kelompok yang menggunakannya. Begitu juga dengan penggunaan kata besar dan gede; atau kata wanita dan cewek. Sedangkan antropologi berkepentingan dengan semantik, antara lain, karena analisis makna sebuah bahasa dapat menjanjikan klasifikasi praktis tentang kehidupan budaya pemakainya.
Selain itu dalam bahasa yang penutruya terdiri dari kelompok kelompok yang mewakili latar belakang budaya, pandangan hidup,dan status sosial yang berbeda, maka makna sebuah kata bisa menjadi berbeda atau memiliki nuansa makna yang berlainan. Umpamanya kata butuh dalam masyarakat Indonesia di Pulau Jawa berarti ‘perlu’, tetapi dalam masyarakat Indonesia di Sumatera Timur berarti ‘kemaluan laki-laki’.

B.   Sejarah Semantik
Para pemikir/filusuf Yunani sejak dulu telah mengkaji dan mendiskusikan isu-isu yang dapat dikatagorikan sebagai “embrio” semantik. Studi semantik pada saat itu dapat dijadikan sebagai barometer kemajuan berpikir seseorang (Umar, 1982). Aristoteles sebagai pemikir Yunani yang hidup pada masa 384-322 SM adalah pemikir pertama yang menggunakan istilah “makna” lewat batasan pengertian kata, yang menurutnya adalah satuan terkecil yang mengandung makna (Aminuddin, 2003).
Dalam kaitannya dengan “makna”, Aristoteles membedakan antara bunyi dan makna, Disebutkan, bahwa makna itu sesuai dengan konsep yang ada pada pikiran. Dia membedakan antara sesuatu yang ada di dunia luar (al-asyya’ fil ‘alam al-khariji), konsep/makna (at-tashawwurat/al-ma’ani), dan bunyi/lambang atau kata (ar-rumuz/al-kalimat) (Umar, 1982). Bahkan Plato (429—347 SM) dalam Cratylus mengungkapkan bahwa bunyi-bunyi bahasa itu secara implisit mengandung makna-makna tertentu. Hanya saja memang, pada masa itu batas antara etimologi, studi makna, maupun studi makna kata belum jelas (Aminuddin, 2003).
Semantik sebagai subdisiplin linguistik muncul pada abad ke-19. Pada tahun 1825, seorang pakar klasik berkebangsaan Jerman bernama C. Chr.Reisig mengemukakan pendapatnya tentang tatabahasa (grammar). Dia membagi tatabahasa menjadi tiga bagian utama, yaitu (1) semasiologi, ilmu tentang tanda, (2) sintaksis, studi tentang kalimat, dan (3) etimologi, studi tentang asal usul kata sehubungan dengan perubahan bentuk maupun makna (Pateda, 2001, Chaer, 2002, dan Aminuddin, 2003).
Istilah semasiologi yang berasal dari Reisig ini berpadanan dengan
istilah semantik (Pateda, 2001). Istilah semantik itu sendiri pada saat itu masih belum digunakan meskipun studi tentangnya sudah dilaksanakan. (Aminuddin, 2003). Berdasarkan pandangan Reisig ini, perkembangan semantik dapat dibagi atas tiga fase (Pateda, 2001). Fase pertama meliputi masa setengah abad, termasuk di dalamnya kegiatan Reisig. Fase ini biasa disebut the underground period of semantiks.

Fase kedua, awal tahun 1883 (dalam buku Pateda, 2001 disebutkan awal tahun 1880) dimulai dengan munculnya buku karya Michel Breal, seorang berkebangsaan Perancis lewat artikelnya berjudul “Les Lois Intellectuelles du langage”. Pada masa itu, studi semantik lebih banyak berkaitan dengan unsur-unsur di luar bahasa itu sendiri, misalnya bentuk perubahan makna, latar belakang perubahan makna, hubungan perubahan makna dengan logika, psikologi maupun kriteria lainnya. Karya klasik Breal dalam bidang semantik pada akhir abad ke-19 ini adalah
Essai de Semantique Science des Significations (1897), yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris Semantiks: Studi in the Science of Meaning (Pateda 2001 dan Aminuddin, 2003).

Fase ketiga, yakni tiga dekade pertama abab XX merupakan masa pertumbuhan studi tentang makna. Fase ini ditandai dengan pemunculan buku berjudul Meaning and Change of Meaning with Special Reference to the English Language (1931) karya filosof Swedia bernama Gustaf Stern (Pateda, 2001 dan Aminuddin, 2003). Stern dalam kajiannya sudah melakukan studi makna secara empiris dengan bertolak dari satu bahasa, yakni bahasa Inggris (Aminuddin, 2003). Sebelumnya, yakni pada tahun 1916, Ferdinand de Saussure yang sering disebut sebagai bapak linguistik modern telah menulis buku berjudul Cours de Linguistique Generale (pada tahun 1959, buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris Course in General Linguistiks). Dia berpendapat, bahwa studi linguistik harus difokuskan pada keberadaan bahasa itu pada waktu tertentu (Chaer, 2002). Dengan demikian, studi bahasa yang dilaksanakan haruslah menggunakan pendekatan sinkronis atau studi yang bersifat deskriptif. Sementara itu, studi tentang sejarah dan dan perkembangan suatu bahasa adalah kajian kesejarahan yang menggunakan pendekatan diakronis (Aminuddin, 2003).

Pandangan de Saussure tersebut berimplikasi pada studi semantik yang dicirikan oleh (i) pandangan yang bersifat historis telah ditinggalkan karena pendekatannya sinkronis, meskipun masalah perubahan makna masih juga dibicarakan; (ii) perhatian diarahkan pada strukutr kosa kata; (iii) semantik dipengaruhi oleh stilistika; (iv) studi semantik telah diarahkan pada bahasa tertentu dan tidak bersifat umum lagi; (v) dipelajari hubungan antara bahasa dan pikiran karena bahasa tidak dianggap sebagai kekuatan yang menentukan dan mengarahkan pikiran; (vi) meskipun semantik telah melepaskan diri dari filsafat, namun tidak berarti bahwa filsafat tidak dapat membantu perkembangan semantik (Pateda, 2001, Chaer, 2002, dan Aminuddin, 2003).
Menurut de Saussure yang nama lengkapnya Mongin Ferdinan de Seassure (kelahiran Jenewa pada tahun 1857), suatu bahasa terdiri atas satu perangkat tanda atau ‘signs’ yang merupakan kesatuan dari signifiant (penanda atau bagian bunyi ujaran) dengan signifie (tertanda atau bagian arti). Masing-masing tanda tersebut tidak dapat dipisahkan, karena ucapan atau artinya ditentukan oleh perbedaan dengan tanda-tanda di dalam sistemnya. Tanpa sistem yang ada dalam sutau bahasa, kita tidak mempunyai landasan untuk membicarakan bunyi atau konsep/arti (Sampson, 1980). Istilah semantik pun bermacam-macam, antara lain, signifik,
semasiologi, semiologi, semiotik, sememmik, dan semik. Palmer (1976), Leech (1974), dan Lyons (1977) menggunakan istilah semantik (Djajasudarma, 1, 1993).
C.  Manfaat Semantik
Manfaat yang dapat dipetik dalam studi semantik sangat tergantung dari bidang apa yang kita gelutidalam tugas kita sehari-hari bagi orang-orang yang berkecimpung dalam dunia persuratkabaran dan pemberitaan, mereka barangkali akan memperoleh manfaan praktis dan pengetahuan mengenai semantik. Pengentahuan semantik akan memudahkannya dalam memilih dan menggunakan kata dengan makna ang tepat dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat umum. Tanpa pengetahuan akan konsep-konsep polisemi, homonimi, denotasi, konotasi, dan nuansa-nuansa makna tentu akan sulit bagi mereka untuk dapat mereka untuk dapat menyampaikan informasi secara tepat dan benar.
Bagi mereka yang berkecimpung dalam penelitian bahasa, seperti mereka yang belajar di Fakultas Sastra, pengetahuan semantik akan banyak memberi bekal teoritis kepadanya untuk dapat menganalisis bahasa atau bahasa-bahasa yang sedang dipelajarinya. Sedangkan bagi seorang guru atau calon guru, pengetahuan mengenai semantik, akan memberi manfaat teoritis dan juga manfaat  praktis. Manfaat teoretis karena dia sebagai guru bahasa harus pula mempelajari dengan sungguh-sungguh akan bahasa yang diajarkannya. Teori-teori semantik ini akan bahasa yang diajarkannya. Teori-teori semantik ini akan menolongnya memahami denga lebih baik “rimba belantara rahasia” bahasa yang akan diajarkannya itu. Sedangkan manfaat praktis akan diperoleh berupa kemudahan bagi dirinya dalam mengajarkan bahasa itu kepada murid-muridnya. Seorang guru bahasa, selain harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang luas mengenai segala aspek bahasa, juga harus memiliki pengetahuan teori semantik secara memadai. Tanpa pengetahuan ini dia tidak akan dapat dengan tepat menjelaskan perbedaan dan persamaan semantik antara dua buah bentuk kata, serta bagaimana menggunakan kedua bentuk kata, serta bagaimana menggunakan kedua bentuk kata yang mirip itu dengan benar.
Adakah manfaat semantik bagi orang awam? Tentu saja ada. Memang bagi orang awam, atau bagi orang-orang kebanyakan pada umumnya, pengetahuan yang luas akan teori semantik tidaklah diperlukan untuk dapat memahami dunia di sekelililngnya yang penuh dengan informasi dan lalu lintas kebahasaan. Semua informasi yang ada disekelilingnya, dan yang juga harus mereka serap, berlangsung melalui bahasa, melalui dunia lingual. Sebagai manusia bermasyarakat tidak mungkin
D.  Hubungan Semantik dengan Disiplin Ilmu Lain
Sosiologi mempunyai kepentingan dengan semantik karena sering dijumpai kenyataan bahwa penggunaan kata-kata tertentu untuk mengatakan sesuatu makna dapat menandai identitas kelompok dalam masyarakat. Kata ‘uang’ dan ‘duit’ memiliki makna yang sama tetapi penggunaannya dapat menunjukkan identitas kelompok yang menggunakannya.
Antropologi berkepentingan dengan semantik antara lain karena analisis makna sebuah bahasa dapat menjanjikan klasifikasi praktis tentang kehidupan budaya pemakainya. Budaya masyarakat Inggris yang tidak mengenal nasi sebagai makanan pokok hanya ada kata rice untuk menyatakan nasi, beras, gabah, dan padi.
Persoalan makna bukan saja dipelajari dalam semantik tetapi juga filsafat, logika dan psikologi. Dengan kata lain bahwa adanya hubungan antara linguistik yang memelajari makna dengan disiplin ilmu-ilmu lain diatas. Hubungan tersebut dikemukakan oleh George (i64:24) sebagai berikut :
Telah diketahui bahwa manusia dalam berkomunikasi menggunakan kalimat(namun ada pula yang berkomunikasi secara non verbal). Kalimat merupakan kajian sintaksis, sedangkan kalimat diucapkan oleh manusia mengandung makna. Dengan demikian dapat dilihat adanya hubungan antara tataran linguistik berupa sintaksis dan semantik.
Lebih lanjut George (1964) berpendapat bahwa selain hubungan antara linguistik, psikologi, logika dan filsafat, tampak pula kedudukan pragmatic semantik behavioral. Kemudian ada pula hubungan antara linguistik, psikologi, logika dan filsafat, tampak pula adanya filsafat linguistik.
Batas-batas pendekatan seorang linguis, filsuf, psikolog, dan orang yang bergerak dalam bidang logika dalam semantik susah untuk dijelaskan.
Semantik sebagai ilmu, memelajari pemaknaan dalam bahasa dan terbatas pada pengalaman manusia. Jadi, secara ontologism semantik membatasi masalah pada pengalaman yang dikajinya hanya pada persoalan yang terdapat didalam ruang lingkup jangkauan pengalaman manusia. Selain itu semantik membicarakan apa yang ditandai. Hal tersebut dikemukakan oleh Morris (1946) dalam bukunya berjudul signa, language dan behavior. Jadi jika seekor anjing bereaksi berharap adanya makanan apabila mendengar bel, maka bel tersebut sebagai penanda adanya makanan.
Sifat kemajemukan bahasa sering menimbulkan kekacauan semantik, misalnya dua oarng sedang berkomunikasi menggunakan kata yang sama untuk pengertian yang berbeda, atau sebaliknya. Namun kekacauan semantik dapat dihindari dengan prinsip kooperatif. Namun Kempson (1997:6) prinsip kooperatif berhubungan dengan kuantitas kata, kuantitas pembicaraan, hubungan pembicaraan dan penyampaian yang jelas.
KESIMPULAN
Semantik merupakan cabang linguistik yang mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu sosial lain seperti sosiologi dan antropologi; bahkan juga dengan filsafat dan psikologi. Kata uang dan duit memiliki makna yang sama, tetapi penggunaannya dapat menunjukkan identitas kelompok yang menggunakannya. Begitu juga dengan penggunaan kata besar dan gede; atau kata wanita dan cewek. Jenis semantik terdiri atas semantik leksikal dan semantik maksud.
Manfaat yang dapat dipetik dalam studi semantik sangat tergantung dari bidang apa yang kita gelutidalam tugas kita sehari-hari bagi orang-orang yang berkecimpung dalam dunia persuratkabaran dan pemberitaan, mereka barangkali akan memperoleh manfaan praktis dan pengetahuan mengenai semantik. Pengentahuan semantik akan memudahkannya dalam memilih dan menggunakan kata dengan makna ang tepat dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat umum.
Studi serius mengenai bahasa Indonesia telah banyak dilakukan oleh orang. Semua segi dan aspek kebahasaan bahasa Indonesia telah pernah diteliti orang, meskipun masih banyak yang belum tuntas, termasuk masalah semantiknya.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta : Rineke Cipta
Anonim1. 2011. http://bahasa.kompasiana.com/2011/11/15/pengertian-dan-sejarah-semantik. Diakses tanggal 24 Desember 2011